Cerita Dewasa – Bersama Inge Staff yang Binal

0
236

Suatu siang dihari Rabu seminggu setelah kita nonton, kebetulan Inge datang kekamarku dgn membawa laporan2 yg aku harus tanda tangani. Inge bertanya:”Pak, nanti malam bapak ada waktu?”. “Kenapa” tanyaku pura2 sebab dlm hatiku saat2 inilah yg kunantikan. “Kalau bapak ada waktu, Inge kepingin makan diluar tapi kok nggak ada teman” sahutnya. “Oke. kalau Inge yg ngajak saya bersedia. Jam 6 sore seperti minggu lalu saya datang kekost ya Inge?”. kataku. “Terima kasih ya pak”. Sore itu aku cepat2 pulang dan segera mandi. Jam 5.30 sore aku siap berangkat ke kostnya Inge, karena terlalu pagi Inge belum siap dan aku tunggu diruang tamu. Baru kira2 10 menit kemudian Inge keluar. Aku sempat terpesona beberapa saat, karean Inge yg saya tahu biasanya memakai rok agak mini dgn baju atau kaos pendek perutnya dan agak ketat. Kali ini tampil dgn memakai gaun panjang warna ungu dgn belahan yg agak tinggi dibagian paha sebelah kirinya, sehingga kalau jalan pahanya yg kiri nan putih bersih itu kelihatan dgn jelas dan bagian dalam pahanya kanan juga nampak samar2. “Ceeek….ceeekkk….ceeekkkk” komentarku. Inge bahkan tersenyum manis dan kemudian memutar tubuhnya dan ……bagian punggungnya terbuka lebar sampai kebawah dgn model huruf V sampai diatas pinggulnya.

Aku yakin sekali kalau Inge pasti no bra sekarang. Tanpa duduk, Inge langsung mengajak berangkat. Aku rangkul pinggangnya, Inge jadi agak kikuk taku kalau tante kostnya tahu. Begitu masuk mobil aku minta untuk mengecup dulu bibirnya yg merah merekah dan basah terus itu, sambil punggungnya yg terbuka itu ku-usap2 dan ternyata dugaan benar saat dadanya kutekan erat2 kedadaku terasa gumpalan daging yg kenyal dgn nama payu dara tanpa terlindungi spons BH menempel didadaku. Denyut jantungku langsung berdetak cepat. Kemudian mobil mulai kujalankan dan tangannya Inge diletakkan diatas paha kiriku sambil kadang2 memijit pahaku. Mau makan mana Inge ?. Terserah bapak” katanya. Memang Inge tetap tak mau panggil aku dgn sebutan lain, ia pilih dgn “pak” karena takut salah ngomong kalau dikantor nanti. “Kalau makan sate kambing apakah Inge suka?” tanyaku. “Mau pak, malah sebenarnya Inge sudah lama tak pernah makan itu karena pacar Inge tak suka daging kambing” katanya. Akhirnya kita rumah makan sate kambing. Saat turun dari mobil dan masuk kerumah makan sekarang ganti Inge yg selalu merangkul pingganku. Inge duduk disebelah kananku. memang kuatur demikan supaya tangan kananku bisa dekat dgn paha kirinya yg terbuka sampai keatas utk ku-raba2. Memang kali ini Inge berbeda dgn waktu nonton film, kali ini Inge tampak ceria dan manja.

Saat duduk makan Inge duduknya merapatkan tubuhnya ketubuhku serta tangannya memegang pahaku. Tanganku sebelum beraksi dipahanya kupakai utk meng-usap2 punggungnya yg terbuka. Untuk saat itu rumah makan masih sepi pengunjung,jadi aku agak bebas berkarya. Setelah puas meraba punggungnya tanganku kususupkan kedalam roknya kedaerah pinggang dan turun disana tanganku meraba CD nya. Kemudian tanganku bergerak keatas dan menyusup kebawah ketiaknya dan menuju kesamping depan sehingga ujung jari3ku dpt menyentuh samping payu daranya yg benar2 masih kenyal. Pekerjaaan tanganku berhenti saat pelayan membawa makanan kemeja kita. Saat makan tanganku kadang mulai meraba pahanya kiri yg terbuka itu. Inge betul2 penuh pengertian saat2 tangan kananku sibuk meraba pahanya, ia yg menyuapkan nasi kemulutku hingga tanganku diberi keleluasaan utk bermain dipahanya dan sampai vaginanyapun ku-raba2 dgn penuh kemesraan. Kadang2 tangan kananku kupakai utk menyendok makanan lagi, tapi lebih sering kupakai utk berkarya dipaha dan lubang vaginanya sedang Inge yg terus dgn kasih sayangnya menyuapi aku dgn makanan sampai suatu saat Inge mendesah dan memegang tanganku yg berkarya erat2 searya berkata:”Pak, karya tangan bapak benar2 hebat bisa membuat Inge basah”. Lalu kuraba vaginanya ternyata CD nya juga sdh basah apalagi lubang vaginanya, ujung jari2 ku kumasukkan kelubangnya utk bisa mengkait lendir yg menempel dibibir vaginanya ternyata usahaku itu berhasil juga.

Kulihat ada lendir kental mirip cendol menempel diujung telunjukku, segera kujilati lendir itu dan kutelan bersama makanan yg disuapkan oleh Inge. Aku betul2 merasa “hot” makan daging kambing dicampur lendirnya Inge, aku rebahkan kepalaku kekepalanya Inge sambil berbisik:”Inge sayang, saya menyayangimu”. Inge menjawab:”Pak, sebentar lagi Inge menjadi kepunyaan bapak seluruhnya, Inge akan memberikan segalanya yg terbaik utk bapak nanti. Percayalah” sambil mencium pipiku. Selesai makan, kita langsung menuju hotel CB dikota atas yg banyak pemandangannya walaupun itu hotel kuno.